Link Building Untuk SEO di 2022 yang saya Gunakan
Bicara tentang link building, para pelaku SEO mungkin sudah tak asing dengan hal ini. Di mana, proses link building adalah tahapan dari bagaimana sebuah website mendapatkan backlink yang berkualitas, dari website lain, atau juga dari beragam platform website yang memang digunakan untuk membangun backlink.
Ada beragam cara yang digunakan untuk proses link building ini, mulai dari menggunakan website 2.0 gratisan seperti Wordpress, Blogger, Medium, Wikidot, dan sebagainya, dan ada juga yang melakukan tracking backlink kompetitor, untuk mengetahui dari mana website/kompetitor mendapatkan backlink.
Jelas, gak ada cara yang salah dari proses link building ini dilakukan. Semua sih sah-sah saja. Namun, kadang prosess link building sering disalah artikan. Ada saja pelaku SEO yang kerap sembarang membangun link building dengan asal, dan ada juga yang memang benar-benar dibuat secara manual.
Namun bukan tanpa alasan, kok. Kadang, backlink yang didapat secara asal-asalan memang lebih cepat prosessnya. Karena, biasanya website yang digunakan untuk backlink hanya berupa backlink comment, backlink profile, atau bahkan spamming.
Hmm ..., mungkin hal ini terdengar biasa saja ya. Karena, di tahun 2011 - 2012 cara seperti ini masih terbilang lazim dan sangat efektif untuk mendapatkan backlink, ada juga yang menggunakan exchange link dengan memasang anchor text yang mengarah ke domain url dari home page pemilik website.
Tapi seiring berjalannya waktu, apakah hal ini masih worth it?
Yaps, masih jadi pertanyaan memang. Sebagian orang masih menggunakan cara ini untuk meningkatkan backlink pada website mereka. Namun sebagian memilih untuk menggunakan link building secara manual, untuk mendapatkan backlink yang benar-benar berkualitas, dan tak sekedar menempel pada website utama.
Lantas, bagaimana sih link building yang baik itu? Apa saja cara link building yang saya gunakan?
Oke, sedikit disclaimer dulu untuk para pembaca. Di sini saya hanya membagikan cara yang saya gunakan untuk mengoptimasi website utama saya. Sisanya, saya kembalikan kepada pembaca, untuk menilai apakah cara ini worth it atau tidak untuk digunakan.
Link Building untuk SEO di 2022
image source: jaditau.my.id
Menelisik kembali ke beberapa tahun lalu tepatnya di 2020, saya baru saja diterima kerja di salah satu start up yang bergerak di bidang jasa optimasi SEO. Disana, saya berperan sebagai Content Writer dan juga Content Management yang ikut serta mengurus content untuk Instagram.
Tapi hal itu gak penting kok, hehe. Namun, ada beberapa hal yang saya pelajari ketika bekerja disana. Salah satunya, adalah link building dan juga SEO didalam penulisan artikel. Namun yang sampai sekarang masih saya keep adalah tentang Pyramid Link Building.
Mungkin buat yang sudah tau, hal ini bukan lagi hal yang mengherankan. Namun buat yang baru mempelajari SEO mungkin bertanya tanya.
Apa itu Pyramid Link Building?
Singkatnya, Pyramid Link Building adalah bentuk link building yang membentuk seperti piramida. Dan didalam piramida ini, semua terbentuk dari 3 struktur web yang terdiri dari tier 1, tier 2, dan tier 3.
Tier 1
Adalah website utama, yang mana dibangun dengan menggunakan CMS populer seperti Worpress.org, atau bahkan Blogger.com. Baik dari kedua CMS tadi, kebanyakan pemilik website akan leih menggunakan Wordpress karena lebih mudah dalam installasi-nya.
Dan biasanya, untuk membangun tier 1 menggunakan Wordpress.org atau Wordpress Self Host, kamu harus mengeluarkan budget untuk membeli hosting, dan juga domain agar website-mu terlihat lebih professional. Dan jangan lupa, kamu harus membeli theme untuk Wordpress yang kamu bangun.
Didalam tier 1 ini, biasanya penulisan artikel akan sangat kompleks. Para pemilik website tier 1, mereka akan menggunakan plugin seperti Yoast SEO atau plugin sejenisnya. Dan tak lupa, penerapan SEO secara on page dan off page.
Tier 2
Berbeda dengan tier 1, website dari tier 2 biasanya dibangun dari platform untuk membuat website secara gratis. Misalnya, Wordpress.com, Blogger.com, Vercel.app, Netlify.app, Pages.dev, dan lain sebagainya.
Dan tentunya, karena platform ini adalah gratis, maka kamu akan mendapatkan sub domain dari penyedia platform itu sendiri. Misalnya, websiteku.wordpress.com, websiteku.blogspot.com, websiteku.vercel.app dan tentunya website yang sekarang kamu lihat ini, memiliki ekstensi domain faiz.vercel.app.
Jika kamu ingin menggunakan domain TLD seperti .com, .net, .info, dan lain sebagainya, kamu harus melakukan upgrade account dengan mengeluarkan budget sesuai dengan paket yang disediakan.
Tier 3
Sedangkan tier 3, adalah website yang memang sudah ada dan kerap digunakan untuk kebutuhan menanam backlink bagi para petisi SEO. Biasanya, website dengan tier 3 ini memiliki jenis yang berbeda. Mulai dari:
- Website yang memungkinkan pengguna meninggalkan komentar.
- Forum yang memungkinkan pengguna membuat akun dan menambahkan website pada profile.
- Situs submission untuk pengguna mengunggah dokumen dan menambahkan deskripsi.
- dan masih banyak lagi.
Untuk menemukan website tier 3, kamu bisa menggunakan beberapa tools yang sering digunakan untuk menganalisa kompetitor. Seperti:
- ahrefs
- SemRush
- Moz
- Majestic SEO
- Ubersuggest by Neil Patel
- dan lain sebagainya
Namun yang sering saya gunakan untuk mencari tier 3, adalah ahrefs. Karena selain mudah untuk digunakan, ahrefs juga akan menampilkan data dari domain rating untuk website tier 3 dan jenis backlink yang diberikan apakah nofollow, dofollow, atau content.
Dari situlah, kita bisa mengetahui kualitas backlink dari tier 3 yang nantinya akan menjadi backlink untuk website yang kita miliki.
Lantas, bagaimana penerapan Pyramid Link Building untuk SEO yang saya gunakan dari 3 tier ini?
Penerapan Pyramid Link Building dengan 3 Tier
Setelah memahami penjelasan dari 3 tier tadi, maka langkah selanjutnya adalah eksekusi dan melakukan penerapan link building jenis pyramid ke website kalian.
1. Bangun Website Tier 1 dengan Optimasi SEO yang Maksimal
Langkah pertama adalah jelas, kamu harus dulu memahami sampai mana kamu mengoptimasi website utama (tier 1) kalian. Kamu bisa optimasi dengan on page dengan memperbaiki artikel yang sesuai dengan kaidah SEO yang berlaku, dan juga mengatur schema dari website dengan bantuan plugin Yoast SEO yang bisa kamu install secara gratis.
Untuk langkah pertama, kamu boleh kok menulis sekitar 5 - 10 artikel saja, baik dengan menggunakan riset kata kunci, ataupun tanpa riset kata kunci. Semua kembali lagi ke kalian, namun yang kerap saya lakukan adalah mentargetkan satu kata kunci utama, yang ditambahkan dengan kata tambahan. Semisal:
- Kata kunci utama: Cara Mendapatkan Backlink
- Kata Kunci tambahan: Dengan benar, Gratis, atau di 2022 Kemudian, saya akan mengkombinasikan kata kunci utama dan turunan, sehingga mendapatkan judul artikel seperti berikut
- Judul: 7 Cara Mendapatkan Backlink di 2022 dengan Benar Tentunya, kamu boleh memasukkan lebih dari 1 kata kunci tambahan, dan menyesuaikan dengan artikel yang akan dibuat. Setelah itu, barulah kamu bisa menulis artikel sesuai dengan kata kunci yang sudah didapat tadi.
2. Bangun Website Tier 2
Jika proses optimasi tier 1 sudah dilakukan, selanjutnya kamu bisa membuat website tier 2 atau yang dikenal dengan web 2.0 pertama kamu. Kamu boleh mencari informasi tentang daftar web 2.0 gratis melalui Google.
Sebagai contoh, saya menggunakan vercel.app dan netlify.app. Karena, untuk domain rating dari kedua website ini, cukup menjanjikan. Berikut data yang saya dapat, dari laman ahrefs.
Kedua website ini, memiliki domain rating yang tinggi, dan sangat cocok untuk dijadikan tier 2 yang kokoh serta mampu menjadi backlink yang bagus. Namun kekurangannya, untuk menggunakan vercel dan netlify proses pembuatan artikel harus dilakukan melalui Gitlab, GitHub, ataupun GitBucket.
Karena kedua website ini harus melalui proses pembuatan atau deploy secara manual, dan dikerjakan sendiri. Tapi jangan sedih, karena masih banyak platform untuk membuat web 2.0 yang lebih mudah. Seperti yang sudah disebutkan di atas.
3. Optimasi Website Tier 2
Ini poin paling penting menurut saya. Setelah membuat web 2.0, kesalahan yang terjadi adalah para pemilik website langsung membombardir web 2.0 untuk memberikan backlink ke tier 1. Biasanya, mereka akan menulis artikel secara asal-asalan dan kemudian memberikan link ke tier 1.
Padahal, dalam teknik link building ini tier 2 harus diposisikan seperti tier 1. Walaupun ada keterbatasan, karena dalam web 2.0 tidak bisa menginstall plugin Yoast SEO dan lain sebagainya.
Nah, maksud dari memposisikan web 2.0/tier 2 seperti tier 1 adalah.
Rutin Update Artikel
Seperti yang sudah dijelaskan tadi, web 2.0 sendiri harus diperlakukan istimewa selayaknya website utama. Di mana, kamu harus melakukan update artikel, paling minim 1 artikel/hari dengan kualitas tulisan yang baik.
Di sini, saya biasanya menggunakan kata kunci turunan, untuk judul artikel yang nantinya di post/publish di web 2.0. Atau, setidaknya masih relevan dengan artikel yang ditulis di website utama. Misalnya:
- Website utama menulis artikel tentang Cara Membuat Backlink yang Natural Kemudian, di web 2.0 saya akan membuat artikel dengan judul:
- Cara Mendapatkan Backlink yang Bagus untuk Website
Jangan terburu-buru untuk langsung memberikan backlink ke tier 1. Biasanya, saya akan membuat artikel di web 2.0 tadi tanpa memberikan backlink ke website utama. Melainkan, terus menulis artikel sampai benar-benar sudah ter-publish sekitar 5 - 10 artikel.
Barulah setelah 9 artikel ter-publish, kamu boleh membuat 1 artikel baru yang memang dikhususkan untuk memberikan link ke website utama/tier 1.
Berikan Backlink untuk Web 2.0, dari Web Tier 3
Ketika proses dari pembuatan artikel selesai, kamu bisa memberikan backlink dari tier 3 ke tier 2 dengan variasi backlink yang kamu gunakan. Kamu bisa melakukan tracking dari website kompetitor menggunakan ahrefs, untuk kemudian meninggalkan backlink dengan menyisipkan link home page dari web 2.0, ataupun ke link artikel yang diinginkan.
Kurang lebih, gambaran dari pyramid yang saya buat tadi, adalah seperti berikut.
Mari kita breakdown.
-
Katakan, kamu memiliki 50 backlink tier 3_ dengan beragam jenis. Kemudian, kamu memiliki 10 web 2.0 dengan autorithy yang tinggi.
-
Lalu, 50 backlink tier 3 akan memberikan backlink ke masing-masing web 2.0 (tiap web 2.0 mendapatkan 5 backlink dari tier 3).
-
Kemudian, 10 web 2.0 masing-masing memberikan 1 backlink ke tier 1.
-
Maka dari hasil breakdown yang didapat adalah, tier 1 hanya akan mendapatkan 10 backlink dari 10 web 2.0 dan tiap web 2.0 akan mendapatkan masing-masing 5 backlink dari tier 3.
Setelah memahami alur breakdown tadi, mungkin kamu akan berfikir jika Loh, kok backlink untuk tier 1 cuma 10? Sedikit banget dong!.
Yaps, memang hanya 10 backlink saja. Tapi bayangkan, jika dari 10 backlink yang didapat dari web 2.0 ini, adalah backlink yang natural, dan berkualitas karena web 2.0 memiliki authority domain rating yang tinggi. Tentunya, Kualitas masih jadi hal penting, daripada kuantitas. Sebab 50 backlink dari tier 3, masih akan kalah dengan 10 backlink dari tier 2.
Mengapa demikian?
Kita ambil contoh seperti ini.
-
Semisal kamu melakukan backlink secara direct dari tier 3 yang mengarah langsung ke tier 1. Bayangkan, jika kamu mendapatkan 50 backlink, namun setelah 1 bulan berlalu backlink tersebut hilang. Maka secara otomatis, authority domain kamu akan ikut menurun.
-
Belum lagi, kadang website tier 3 yang sudah terlalu banyak digunakan kompetitor, bisa saja masuk kedalam jenis website spam akibat banyaknya link aktif, yang mungkin tidak sesuai konteks.
Nah, peran dari web 2.0 di tier 2 ini, adalah sebagai blocking agar tier 1 hanya mendapatkan backlink yang berkualitas, dari tier 2. Dan segala jenis backlink spam yang masuk ke tier 2 tidak akan berpengaruh pada website tier 1, sehingga hal ini tidak akan berpengaruh pada spam score di tier 1.
Gak sampai situ saja, adanya web 2.0/tier 2 yang kamu bangun dan kamu berikan backlink dari tier 3, tentunya bisa menjadi asset jika suatu saat kamu harus menerima client untuk proses link building. Dan backlink dari tier 2 akan terus ada.
Itulah mengapa tadi saya katakan, kamu harus merawat website 2.0 kamu, sebagaimana kamu merawat website utama yang kamu miliki.
Catatan Penting!!!
Dalam proses penerapan pyramid backlink ini tentunya tidak instan. Karena kamu harus memantau backlink yang masuk dari tier 3 ke tier 2, atau minimal artikel yang kamu buat di web 2.0/tier 2 sudah ter-index di pencarian Google.
Namun, dibalik lamanya proses link building ini, kamu akan mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang, dan membuat website utama kamu lebih mudah mendapatkan ranking pada halaman pertama pencarian Google.
Kesimpulan.
Dari panjangnya penjelasan mengenai pyramid link building tadi, tentu semuanya butuh proses. Kamu bisa menyesuaikan dengan bagimana kamu mengatur content plan yang akan dibuat untuk web 2.0, tanpa lupa untuk meng-update artikel di website utama kalian. Kunci dari semua hal di atas adalah, Konsistensi dan Kesabaran.
Semoga artikel ini bisa menjadi referensi untuk kamu, selamat mencoba dan semoga bermanfaat.
©Heyaiz